Nikah Sirri ???

Menikah dalam pandangan Islam adalah hal yang mulia serta dianjurkan.  Menikah adalah Sunah Rasul SAW.

Hadis riwayat Anas ra.:
Bahwa beberapa orang sahabat Nabi saw. bertanya secara diam-diam kepada istri-istri Nabi saw. tentang amal ibadah beliau. Lalu di antara mereka ada yang mengatakan: Aku tidak akan menikah dengan wanita. Yang lain berkata: Aku tidak akan memakan daging. Dan yang lain lagi mengatakan: Aku tidak akan tidur dengan alas. Mendengar itu, Nabi saw. memuji Allah dan bersabda: Apa yang diinginkan orang-orang yang berkata begini, begini! Padahal aku sendiri salat dan tidur, berpuasa dan berbuka serta menikahi wanita! Barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku. (Shahih Muslim No.2487)

Hadis riwayat Sa`ad bin Abu Waqqash ra., ia berkata:
Rasulullah saw. melarang Usman bin Mazh`un hidup mengurung diri untuk beribadah dan menjauhi wanita (istri) dan seandainya beliau mengizinkan, niscaya kami akan mengebiri diri. (Shahih Muslim No.2488)

Mengapa menikah ini dianjurkan mari kita perhatikan hadist Rasulullah SAW berikut  ini :

Hadis riwayat Abdullah bin Mas`ud ra.:
Dari Alqamah ia berkata: Aku sedang berjalan bersama Abdullah di Mina lalu ia bertemu dengan Usman yang segera bangkit dan mengajaknya bicara. Usman berkata kepada Abdullah: Wahai Abu Abdurrahman, inginkah kamu kami kawinkan dengan seorang perempuan yang masih belia? Mungkin ia dapat mengingatkan kembali masa lalumu yang indah. Abdullah menjawab: Kalau kamu telah mengatakan seperti itu, maka Rasulullah saw. pun bersabda: Wahai kaum pemuda! Barang siapa di antara kamu sekalian yang sudah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan melindungi kemaluan (alat kelamin). Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penawar bagi nafsu. (Shahih Muslim No.2485)

Hikmah dianjurkannya menikah bagi yang sudah mampu adalah untuk menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela dan dilarang.  Pernikahan tentunya harus diniatkan secara ikhlas semata ingin mencari keridhaan Allah SWT.  Pernikahan yang diniatkan lillaahita’ala insyaallah akan dirahmati oleh Allah SWT.

Akhir-akhir ini timbul polemik tentang Nikah Sirri. Ada yang bilang ini tidak sah, ada yang punya pandangan nikah sirri beresiko bagi pihak wanita dan bahkan keturunan yang dihasilkan dari buah pernikahan tersebut karena tidak ada kepastian hukum yang memayungi hak-hak wanita dan anaknya. Perlu diketahui anak yang dilahirkan dari pernikahan sirri di Indonesia tidak bisa mendapatkan akte kelahiran, tidak tercantum dalam KK, tidak bisa mendapatkan KTP dan juga Passport (UU no 23/2006). Penolakan paling umum dan paling banyak adalah dikarenakan nikah sirri ini dipandang dapat menyuburkan poligami. Yang paling anyar adalah ancaman tindak pidana bagi para pelaku nikah sirri jika mereka tidak melaporkan tentang pernikahannya kepada KUA.  Timbul pro dan kontra di masyarakat. Kemana kita akan kembalikan masalah ini ?

1. Pandangan dan ajaran Islam tidak mengenal apa yang disebut dengan nikah sirri (nikah diam-diam/dibawah tangan), istilah ini berkembang di Indonesia untuk menamai pernikahan sesuai syarat dan rukun nikah menurut Islam namun tidak tercatat ataupun dilaporkan di KUA. Jadi hukum nikahnya sendiri adalah sah menurut ajaran agama Islam. Kapan istilah ini muncul tidak diketahui asal mulanya hanya saja sudah menjadi rahasia umum bahwa pria menikah sirri karena tidak ingin diketahui oleh istri sebelumnya karena kuatir akan menimbulkan polemik dalam keluarga.

2. Ajaran Islam MEMBOLEHKAN menikahi perempuan lebih dari 1 (poligami) DENGAN SYARAT, perhatikan firman ALLAH SWT dalam Surah An-Nisa ayat 3 :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا

Artinya : Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Islam membolehkan poligami dengan syarat suami mampu berlaku adil bagi para istri yang dikawininya.  Adil disini meliputi kebutuhan   lahiriah istri (pakaian, tempat tinggal dll) dan batiniahnya (giliran, perlakuan dll).  Islam membatasi poligami sampai 4 orang istri saja.

Inilah petunjuk Allah SWT perihal poligami, adapun adab menikahi istri kedua, ketiga maupun keempat tersebut tentunya tetap merujuk kepada ketentuan syarat dan rukunnya.  Bila sudah terpenuhi syarat dan rukunnya maka sahlah pernikahan tersebut.

Lantas mengapa saat ini kaum wanita banyak yang enggan bahkan sebagian terang-terangan menyatakan sikap anti poligami.  Kembalilah kepada petunjuk dan ajaran Allah dan Rasulnya, jangan menuruti kehendak hati sebab akhirnya hanya akan membuat pengingkaran terhadap hukum yang telah Allah tetapkan dan ini sangat berbahaya untuk aqidah. Tidak takutkah akan ancaman Allah terhadap orang-orang yang ingkar kepadaNya ? Naudzubillah min dzalik.

Keengganan kaum wanita mendengar istilah poligami ini sebenarnya dikarenakan adanya cerita, pengakuan, dan fakta yang tidak terbantahkan bahwa sebagian (besar ?) kaum pria yang berpoligami sulit bahkan tidak mampu berbuat adil terhadap istri-istri mereka.  Ketidakadilan ini telah membawa pengaruh buruk dalam kehidupan sosial kaum wanita yang suaminya berpoligami.  Padahal diijinkannya berpoligami justru dipersyaratkan bisa berbuat adil.  Jika berpoligami namun tidak mampu berbuat adil sungguh telah nyata dalam ayat diatas bahwa pelakunya telah berbuat aniaya. Tidak takutkah akan ancaman Allah terhadap orang-orang yang berbuat aniaya ?  Tsumma Naudzubillah min dzalik.

Jika khawatir tidak mampu berbuat adil diantara istri/calon istri maka janganlah berpoligami !

Jika memang tetap akan berpoligami dan merasa mampu berbuat adil maka silahkan dilakukan sesuai tuntunan dan ajaran Islam.

Perhatikan hadist Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa memiliki dua orang idan ia condong kepada salah satunya, ia akan datang pada hari kiamat dengan tubuh miring.” Riwayat Ahmad dan Imam Empat, dan sanadnya shahih.

Dari Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu bahwa ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menikahinya, beliau berdiam dengannya selama tiga hari, dan beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau di depan suamimu bukanlah hina, jika engkau mau aku akan memberimu (giliran) tujuh hari, namun jika aku memberimu tujuh hari, aku juga harus memberi tujuh hari kepada iistriku.” Riwayat Muslim.


Dari ‘Aisyah
Radliyallaahu ‘anhu bahwa Saudah Binti Zam’ah pernah memberikan hari gilirannya kepada ‘Aisyah. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memberi giliran kepada ‘Aisyah pada harinya dan pada hari Saudah. Muttafaq Alaihi.


Dari Urwah
Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkata: Wahai saudara perempuanku, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak mengistimewakan sebagian kami atas sebagian yang lain dalam pembagian giliran tinggalnya bersama kami. Pada siang hari beliau berkeliling pada kami semua dan menghampiri setiap  tanpa menyentuhnya hingga beliau sampai pada iyang menjadi gilirannya, lalu beliau bermalam padanya. Riwayat Ahmad dan Abu Dawud, dan lafadznya menurut Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim.

(hadist-hadist diatas diambil dari kitab bulughul maram min adillatil ahkam, Al Hafidz Ibnu Hajar Al Ashqolani)

3. Perlukah nikah untuk dicatatkan ? pendapat saya dalam hal ini adalah PERLU ! mengingat manfaatnya lebih besar dari mudharatnya bahkan mungkin tidak ada kemudharatan jika pernikahan dicatatkan asal proses pernikahannya tidak menyalahi ajaran islam.  Proses pencatatan ini akan banyak bermanfaat bagi pasangan yang menikah maupun keturunannya, diantaranya : menghindari fitnah, mempertegas silsilah perkawinan dan keluarga, menghindari resiko terjadinya perkawinan sekandung yang dilarang oleh Islam (bayangkan jika karena ketidaktahuan asal-usul siapa ayahnya akhirnya terjadi pernikahan sedarah/sekandung!) , membantu pelaksanaan hukum waris (faraid), mempermudah keluarga maupun keturunannya untuk memperoleh jaminan haknya sebagai warga negara.

4. Apakah perlu pelaku nikah sirri dipidanakan jika tidak mencatatkan pernikahannya ke KUA ? pendapat saya dalam hal ini TIDAK PERLU ! yang diperlukan adalah :

a. Himbauan melalui dakwah secara terus menerus melibatkan para ulama kepada para pelaku nikah sirri untuk melakukan pencatatan pernikahan di KUA disertai dengan sosialisasi resiko-resiko sosial yang timbul  bila pernikahan tidak dicatatkan seperti yang sudah disebutkan diatas sehingga diharapkan masyarakat yang sudah terlanjur melakukan nikah sirri segera tersadar akan hal ini.

b. Bentuk sangsi alternatif misalnya; bagi pasangan yang menikah sirri dan berkeras tidak bersedia melakukan pencatatan pernikahannya, maka pemerintah beserta perangkat berkepentingan dibawahnya dapat saja melakukan pencatatan sepihak disertai dengan bukti dan saksi yang menguatkan adanya pernikahan yang sah dari pasangan suami istri yang menikah secara sirri tersebut untuk kemudian diumumkan kepada khalayak.  Data ini juga mempunyai kekuatan hukum dan dapat dijadikan sebagai dasar hukum bila kelak kemudian hari ternyata terbukti terjadi tindak yang merugikan salah satu pasangan (suami/istri, umumnya istri)

Akhirnya mari kita berserah diri kepada Allah SWT, berharap ampunan dan keridhaannya.  Semoga Allah menjadikan keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.  Amiin…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: